Sponsors Link

4 Cara Mengatasi Dilaserasi yang Jarang Diketahui

Sponsors Link

Pernahkah Anda mendengar istilah dilaserasi? Istilah dilaserasi mungkin asing bagi sebagian orang. Wajar saja, penyakit ini memang jarang terjadi. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, tentu akan sangat mengkhawatirkan. Mengingat keterbatasan informasi mengenai penyakit ini. Padahal, dilaserasi gigi bisa sangat mengganggu penderitanya. Bila dibiarkan begitu saja, juga bisa menyebabkan timbulnya komplikasi. Oleh karena itu, mengetahui Cara Mengatasi Dilaserasi menjadi sangat penting. Melalui artikel ini, halogigi akan mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai Cara Mengatasi Dilaserasi.

ads

Apa Itu Dilaserasi?

Dilaserasi atau dalam bahasa sederhananya disebut gigi bengkok, merupakan suatu kondisi yang abnormal ketika akar gigi dan mahkota gigi tumbuh membentuk sudut lancip. Kondisi ini dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi tetap. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan dilaserasi gigi. Dikutip dari intelligentdental.com, berikut adalah beberapa penyebab dilaserasi.

1. Kista atau Tumor

Kemunculan kista atau tumor yang menyebabkan infeksi juga dapat menyebabkan perubahan arah pada saat pertumbuhan gigi. Akhirnya terjadi dilaserasi gigi di bagian mahkota dan akar gigi.

2. Trauma

Penyebab dilaserasi gigi yang umum terjadi adalah trauma ketika gigi masih dalam masa pembentukkan. Trauma dapat menyebabkan posisi gigi dalam masa pembentukkan terganggu dan dampaknya, gigi yang tertinggal akan membentuk sudut. Jangkauan dan titik dilaserasi pada mahkota maupun akar gigi ditentukan oleh trauma yang menjadi penyebabnya. Misalnya trauma karena pukulan di wajah dan ketika terjatuh dengan wajah membentur lantai.

3. Turner Hypoplasia

Dikutip dari wikipedia.org, Turner Hypoplasia atau Enamel Hypoplasia merupakan kondisi cacat gigi ketika enamel gigi yang keras memiliki ketebalan yang tipis dan jumlah yang sedikit. Penyebabnya adalah pembentukkan matriks enamel yang tidak sempurna. Pada beberapa kasus yang parah, enamel gigi bahkan tidak ada sama sekali dan menampakkan dentinnya. Turner Hypoplasia sering terjadi bersamaan dengan dilaserasi gigi.

4. Kawat Gigi Ortodontik

Pemasangan kawat gigi juga berperan dalam membentuk dilaserasi gigi. Terutama jika kawat gigi dipasang pada gigi yang masih dalam masa pertumbuhan.

Cara Mengatasi Dilaserasi

Meskipun sebenarnya dilaserasi gigi tidak berbahaya, dilaserasi tetap tidak boleh dibiarkan. Karena dapat menyebabkan komplikasi serius pada penderitanya. Gigi mungkin akan mengalami impaksi atau tidak muncul di tempat akar gigi yang mengalami dilaserasi, karena sudut lancipnya. Akhirnya gigi terjebak di dalam rahang. Hal ini kemungkinan akan menimbulkan masalah di kemudian hari, seperti kista yang muncul akibat impaksi gigi yang tidak ditangani.

Gigi yang mengalami dilaserasi juga dapat muncul dalam posisi yang aneh. Sehingga posisi gigi-gigi yang berada di sekitarnya menjadi berantakan. Resiko lain yang mungkin timbul akibat dilaserasi gigi adalah peradangan. Penyebabnya karena struktur gigi yang abnormal dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri untuk menginfeksi pulpa. Kematian (pulpa death) bisa terjadi jika infeksi yang terjadi pada pulpa semakin parah.

Karena resikonya yang besar ini, dilaserasi gigi perlu segera ditangani. Apalagi jika dilaserasi gigi sudah berada pada tingkat yang parah. Dikutip dari laman intelligentdental.com, berikut adalah beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi dilaserasi gigi.

Sponsors Link

1. Operasi

Operasi yang dilakukan untuk mengatasi dilaserasi gigi bertujuan untuk menata ulang struktur gigi yang terganggu karena dilaserasi. Karena penanganannya tidak bisa dilakukan dengan menggunakan kawat gigi biasa, maka perlu dilakukan operasi untuk melakukan penataan struktur gigi.

2. Dental Crown

Prosedur dental crown perlu dijalani pasien yang mahkota giginya rusak akibat dilaserasi gigi. Tujuannya untuk menghambat masuknya bakteri ke pulpa gigi.

3. Cabut Gigi

Mencabut gigi yang mengalami dilaserasi nampaknya merupakan pilihan terbaik yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah dilaserasi gigi. Namun, cara ini bukannya tanpa hambatan. Gigi yang bengkok karena dilaserasi sulit dicabut karena bentuknya yang menyerupai kait menyangkut kuat di rahang gigi. Ketika dicabut, gigi bengkok seringkali patah sehingga tidak tercabut dengan sempurna. Oleh karena itu dibutuhkan operasi tambahan untuk mengangkat bagian-bagian gigi yang tertinggal.

Sponsors Link

4. Melakukan Monitoring

Jika dilaserasi gigi yang dialami pasien tidak menimbulkan banyak gangguan atau komplikasi, maka yang dapat dilakukan adalah dengan monitoring secara rutin. Karena pada beberapa kasus, dilaserasi tidak membutuhkan penanganan khusus untuk mengatasinya dan pasien penderitanya dapat hidup dengan dilaserasi gigi. Meskipun begitu, pengawasan tetap harus dilakukan untuk mengantisipasi adanya perubahan-perubahan pada gigi yang mengalami dilaserasi.

Demikianlah penjelasan mengenai Cara Mengatasi Dilaserasi. Meskipun dalam beberapa kasus, penderita dilaserasi tidak mengalami keluhan yang serius seperti pada pasien radang gusi gerahamabses gusipenyakit jamur di rongga mulut atau penyakit mulut lainnya, namun pasien tetap harus melakukan monitoring terhadap penyakitnya tersebut. Karena dilaserasi dapat menyebabkan komplikasi seperti radang dan bahkan kista. Jika sudah seperti itu, hal terbaik yang dpaat dilakukan adalah dengan mencabut gigi yang mengalami dilaserasi serta melakukan operasi.

 

Sponsors Link
, ,
Doctors Talk

Jangan pasang kawat gigi dulu, sebelum menyimak penjelasan Dokter gigi berikut ini