Sponsors Link

Dampak Buruk Kebiasaan Menghisap Jempol Tangan pada Bayi

Sponsors Link

 Menghisap jari bagi bayi dan anak-anak biasa dilakukan untuk memberikan rasa nyaman dan tenang . Menurut seorang ahli psikoanalisa, Sigmund Freud, kebiasaan mengemut dianggap normal jika dilakukan hingga anak tersebut berusia 18 bulan. Jika kebiasaan tersebut terus berlanjut setelah lebih dari 18 bulan, maka kondisi tersebut merupakan hal yang tidak wajar.

ads

Di bidang kedokteran gigi, kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan gigi dan mulut anak tersebut. Menghisap jempol tangan yang berkepanjangan dapat menyebabkan masalah kesehatan gigi dan membuat anak lebih rentan mengalami kulit kering, pecah-pecah dan merah. Sementara keluhan lain terjadi pada ludahnya karena sering kontak dengan kulit anak.

Selain menyebabkan kulit bayi menjadi sangat kering, menghisap jempol tangan dapat mengakibatkan penampilan kulit yang bersisik dan merah. Kesenangan menghisap jempol akan  menghilang ketika perhatian anak sudah beralih ke hal lain. Anak lebih banyak bermain dan berinteraksi dengan orang lain, berfantasi dengan mainan-mainannya, bersepeda menjelajah rumah, atau berlarian kesana kemari.

Lantaran itulah, jika sampai lewat usia dua tahun si kecil masih senang mengisap apa pun yang dapat diisapnya, bisa jadi  ia memiliki masalah dalam menemukan keasyikan lain di luar kebiasaan itu. Salah satunya karena proses pengalihan perilaku ini berlangsung kurang optimal di usia batita awal.

Pengalihan seharusnya dilakukan terus-menerus  ketika si batita memasukkan benda/ jempol ke dalam mulut dan mengisapnya. Dengan begitu, konsentrasi anak akan beralih ke hal yang lebih positif dan tidak menjadikan mengisap sebagai suatu kebiasaan.

Kesenangan mengisap juga bisa merupakan sebuah bentuk pelarian dari  ketidaknyamanan. Anak yang takut ditinggal sendirian di dalam kamar, marah karena diganggu temannya, sedih karena mainannya rusak,  berusaha mencari kenyamanan dengan mengisap, mengenyot atau menggigit-gigit. Dampak yang muncul dari kebiasaan tersebut hingga harus dilakukan tipe prosedur kosmetik dalam kedokteran gigi ialah :

1. Kerusakan Gigi dan Rahang

Masa batita merupakan masa pertumbuhan awal gigi-geligi anak. Kebiasaan anak mengisap jari atau menggigit benda-benda yang keras, selain membuat posisi gigi menjadi tidak baik, juga akan merusaknya. Aktivitas ini jika bertahun-tahun membuat rahang tidak terbentuk dengan presisi yang baik dan pengeroposan tulang rahang akibat perawatan gigi dan mulut yang salah.

2. Gigi tidak Rata

Membiarkan anak terus mengisap dan menggigit akan semakin membuatnya terlena dengan kebiasaannya itu. Anak menjadi lebih jarang berbicara karena mulutnya asyik dengan benda-benda kesenangannya. Kebiasaan ini akhirnya berpeluang menghambat kemampuan bicara anak dan cara bicara yang salah seperti menggigit lidah dsb menyebabkan gigi tidak rata.

3. Pembentukan Kalus

Saat diisap, kulit jempol bayi akan terus-menerus bergesekan dengan lidah dan ini menyebabkan timbulnya tumpukan sel kulit mati (kalus) di atas jempolnya. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa sakit karena jempol kehilangan kulit, si lapisan pelindung, sehingga ia rawan mengalami memar serta mengalami lidah berwarna putih dan terasa pahit karena paparan kuman.

4. Paronikia

Paronikia merupakan kondisi dimana bakteri menginfeksi akar kuku, atau orang Indonesia biasa menyebutnya cantengan . Hal ini terjadi ketika tekanan hisapan yang terus-menerus pada kuku menimbulkan trauma kuku minor, sehingga ada celah kecil antara kuku dan kulit. Belum lagi bayi yang usianya lebih tua, juga cenderung menggigit dan mengunyah jempolnya selagi mengisap. Ini membuat kuku terluka, dan luka sekecil apapun bisa menjadi sarang bakteri penyebab infeksi dan infeksi tersebut masuk ke dalam gigi menyebabkan dampak infeksi gigi terhadap organ tubuh yang lain.

Sponsors Link

5. Herpetic Whitlow

Merupakan infeksi kuku dan jari yang disebabkan oleh virus Herpes. Bayi yang mengalami herpes oral tanpa sengaja bisa menyebarkan virus dari mulut ke tangan ketika ia mengisap jempolnya. Begitu virus mengenai tangan, maka akan mudah menyerang kulit dan akar kuku sehingga menimbulkan luka lepuh yang menyakitkan dan infeksi juga akan menyebar masuk ke mulut.

6. Gangguan Ortopedik

Mengisap jempol dalam waktu lama dapat membuat jari mengalami deformitas, pertumbuhan tulang berlebih, dan dislokasi atau tidak lurusnya sendi termasuk sendi gigi menjadi tidak sesuai dengan kondisi normal atau kondisi seharusnya.

ads

7. Crossbite

Crossbite bisa terjadi apabila susunan gigi atas dan bawah berbeda atau berlawanan dari normalnya. Crossbite sendiri biasanya merupakan efek gigi tonggos yang menyebabkan melemahnya kemampuan menggigit. Selain masalah gigi, anak usia 5 tahun juga bisa menderita gangguan kulit dan kuku juga. Meskipun begitu, pihak ADA (American Dental Association) menyatakan kalau mengisap jempol hanya memprihatinkan kalau itu sampai menyebabkan masalah gigi permanen, dan ini biasanya muncul setelah usia 5 tahun.

Supaya kebiasaan ini tak sampai berlanjut di usia yang disebutkan tadi, orang tua harus melakukan sesuatu untuk menghentikan dan mencegah buah hatinya mengisap jempol. Berikut caranya:

  • Kenali penyebabnya lebih dulu

Seperti disebutkan tadi, bayi dapat mengisap jempolnya sebagai respon terhadap sesuatu. Misalnya, ketika ia lapar atau bosan, ia akan mengisap jempolnya (daripada tidak berbuat apa-apa). Kalau bunda bisa mengenali pemicunya, maka akan lebih mudah mengatasinya

Contoh bila bosan yang jadi penyebabnya, maka ajak si kecil melakukan permainan yang menggunakan tangan. Jika pemicunya rasa lapar, pastikan ia makan teratur supaya tak sampai kelaparan. Dan kalau lelah adalah alasannya, maka langsung nina-bobokan si kecil tanpa mengisap jempolnya.

  • Peringatan secara halus

Metode ini dapat diberlakukan untuk anak yang sudah bisa mengerti larangan orang tuanya. Bunda bisa menggunakan bahasa tubuh tertentu, seperti menaruh telunjuk di depan bibir, untuk mengingatkannya agar tidak mengisap jempol lagi. Kalau si kecil menurut, jangan segan untuk memujinya karena sudah taat.

  • Alihkan perhatiannya

Bunda dapat mengalihkan perhatian si kecil begitu muncul gelagat untuk mengisap jempol. Caranya bermacam-macam, misalnya dengan menunjukkan sesuatu yang menarik, menimangnya, atau lainnya.

  • Ganti dengan dot

Untuk mematahkan kebiasaan mengisap jempol, dot merupakan salah satu alat yang biasa dipakai orang tua. Namun jangan dipaksa jika si kecil menolaknya. Bunda bisa mencoba cara lain yang sudah disebutkan tadi.

  • Reward dan Punishment

Jika anak berhasil tidak mengisap dan menggigit benda, berikanlah reward  berupa pujian untuk menunjukkan, jika kita menghargai usaha anak untuk meninggalkan perbuatan yang tak baik itu.

Punishment atau hukuman boleh saja diberikan jika memang diperlukan, yaitusetelah berulang kali dinasihati ia tetap tidak mengindahkan. Tentu hukuman yang mendidik, misal, dengan menunda pemberian susu jika ia sangat menyukai susu, tidak mengajaknya jalan-jalan ke taman kompleks, dan semacamnya.

Sponsors Link
, , , , ,
Oleh :
Kategori : Masalah Gigi