Sponsors Link

5 Gejala Hiperdontia yang Jarang Diketahui

Sponsors Link

Manusia dalam masa hidupnya memiliki dua jenis gigi, yaitu gigi susu dan gigi tetap. Gigi susu dimiliki manusia ketika masih anak kecil. Ciri ciri gigi susu diantaranya tumbuh pada saat anak berusia enam bulan, memiliki akar gigi yang pendek, lapisan email yang tipis dan yang lain sebagainya. Setelahnya, gigi tetap akan muncul dan menggantikan gigi susu. Biasanya gigi tetap akan muncul pada rentang usia enam hingga empat belas tahun.

ads

Perbedaan gigi susu dan gigi tetap yang paling terlihat adalah jumlah giginya. Gigi susu memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandning dengan gigi tetap. Jumlah gigi susu yang dapat dimiliki seseorang adalah 20. Sedangkan jumlah gigi tetap yang dapat dimiliki seseorang adalah 32. Pergantian gigi susu dan gigi tetap pada manusia tidak selalu berjalan mulus. Terkadang gigi susu tidak kunjung tanggal dan mempersulit pertumbuhan gigi tetap. Penyebab gigi susu belum tanggal salah satunya adalah karena rahang yang masih belum berkembang.

Jumlah gigi tetap manusia umumnya berjumlah 32 buah. Namun dalam kasus tertentu, muncul gigi-gigi tambahan di langit-langit mulut yang sebenarnya tidak punya fungsi yang penting. Kondisi seperti ini dinamakan hiperdontia. Meskipun sangat jarang terjadi, hiperdontia bisa sangat mengganggu dan bahkan membahayakan penderitanya. Halogigi akan mencoba menguraikan lebih lanjut mengenai penyakit hiperdontia, Gejala Hiperdontia dan cara mengatasinya.

Apa Itu Hiperdontia?

Beberapa orang mungkin asing dengan istilah hiperdontia. Penjelasan sederhana mengenai hiperdontia adalah kondisi ketika tumbuh beberapa gigi tambahan di wilayah yang tidak seharusnya, seperti di langit-langit mulut. Dikutip dari laman epainassist.com, gigi hiperdontia umumnya muncul di bagian depan gigi seri rahang atas. Selain itu, hiperdontia juga umum muncul di bagian lain rahang atas dan mandibula. Kemunculan hiperdontia pada diri seseorang adalah 1% hingga 4% dari total populasi dengan rasio perbandingan antara pria dan wanita adalah 2 : 1.

Gejala Hiperdontia

Biasanya hiperdontia tidak menunjukkan gejala apapun. Namun untuk mengetahuinya cukup mudah. Mengetahui keberadaan penyakit ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan medis. Berikut adalah kondisi-kondisi yang dapat diamati menurut epainassist.com.

1. Gigi yang Penuh Sesak

Gusi telah dirancang sedemikian rupa agar dapat menampung jumlah alami gigi. Jika gigi-gigi tambahan muncul, hasilnya gigi akan terlihat penuh dan akhirnya merusak susunan-susunan gigi yang semestinya.

2. Gigi Tetap Tidak Kunjung Muncul

Pada beberapa anak, terlihat gigi susunya tidak tanggal dalam waktu yang seharusnya. Atau gigi seri tetap di rahang atas tidak kunjung muncul, meskipun gigi susu serinya sudah tanggal. Penyebabnya kemungkinan karena gigi tambahan yang lokasinya berdekatan dengan gigi seri tetap menghalanginya untuk tumbuh.

3. Gigi Tetap yang Bergeser

Jika hiperdontia terjadi, kemungkinan besar posisi gigi tetap akan bergeser dari tempat yang seharusnya. Dampaknya, penderita hiperdontia dapat merasa gelisah dan tidak nyaman.

 4. Masalah Terkait Berbicara

Karena jumlah gigi penderita hiperdontia lebih banyak dari orang normal, kemungkinan mereka akan mengalami masalah dalam berbicara. Hal ini akan merugikan bagi kemampuan belajara anak-anak yang menderita hiperdontia. Mereka mungkin juga akan memiliki nada suara dan cara berbicara yang berbeda dengan orang normal.

5. Penampakkan Wajah yang Abnormal

Susunan gigi yang dimiliki seseorang turut berpengaruh terhadap penampakkan wajahnya. Penampakkan wajah orang yang memiliki hiperdontia kemungkinan lebih abnormal dibanding dengan mereka yang tidak memiliki hiperdontia. Hal ini tentu akan merugikan penderita hiperdontia, lebih tepatnya akan menurunkan kepercayaan dirinya.

Menangani Hiperdontia

Pada beberapa kasus, hiperdontia sebenarnya tidak berbahaya dan tidak perlu penanganan khusus. Namun, sebagian orang mungkin akan mendapatkan masalah jika hiperdontia tidak segera ditangani, seperti misalnya pembengkakkan, gusi yang luka akibat gigi tambahan, kesulitan mengunyah, nyeri dan yang lainnya. Menurut laman epainassist.com, berikut adalah beberapa cara dalam menangani hiperdontia.

Sponsors Link

1. Cabut Gigi

Ini adalah cara yang paling mudah dan paling umum dalam menangani hiperdontia. Bius lokal diterapkan ke pasien agar sakit tidak terasa ketika gigi sedang dicabut.

2. Terapi Endodontik Oleh Endodontist

Terapi ini hanya dilakukan jika gigi tambahan bergabung dengan gigi tetap. Prosedurnya adalah dengan melepas jaringan yang berada di sekitar gigi yang bergabung. Pelepasan hanya dilakukan jikaakar gigi sudah tumbuh sempurna. Setelahnya, gigi yang bergabung tersebut dicabut dengan jalan operasi. Operasi adalah jalan terbaik karena pada kasus ini akar gigi tetap dan akar gigi tambahan bergabung menjadi satu.

Sponsors Link

3. Terapi Ortodontik

Gigi tambahan akan mengubah susunan gigi-gigi tetap di sekitarnya. Oleh karena itu, setelah proses cabut gigi selesai, diperlukan terapi ortodontik untuk merapikan kembali susunan-susunan gigi. Caranya adalah dengan memasangkan kawat gigi.

Demikianlah penjelasan mengenai Gejala Hiperdontia serta cara menanganinya. Sebenarnya hiperdontia bukanlah penyakit yang berbahaya. Namun dalam beberapa kasus, hiperdontia bisa sangat mengganggu dan bahkan merusak kesehatan mulut. Jika dampak buruk hiperdontia Anda alami, maka segeralah ke dokter gigi Anda agar penanganan lebih lanjut dapat dilakukan.

Sponsors Link
, , , ,