Sponsors Link

Resiko Operasi Gigi Geraham Bungsu yang Jarang Diketahui

Sponsors Link

Akhir-akhir ini gigi geraham bungsu seringkali menjadi masalah serius bagi sebagian orang. Keberadaan gigi geraham bungsu sendiri sekarang ini sebenarnya sudah tidak lagi diperlukan, karena makanan manusia sudah tidak mentah seperti pada masa prasejarah dulu. Sama seperti anggota tubuh lainnya, mulut manusia juga berevolusi. Ukuran rahang manusia semakin lama semakin mengecil, karena makanan manusia yang semakin halus dan mudah dikunyah. Namun jumlah gigi manusia tetap dan gigi geraham bungsu seringkali tidak mendapat tempat untuk tumbuh.

ads

Dibandingkan mendatangkan manfaat, pertumbuhan gigi geraham bungsu sakit lebih sering mendatangkan masalah. Misalnya rasa nyeri ketika mengunyah makanan, melukai gusi ketika menutup mulut dan yang lainnya. Oleh karena itu, pada beberapa kasus gigi geraham bungsu perlu dicabut. Jika tidak infeksi gigi geraham bungsu bawah bisa terjadi.

Pencabutan gigi geraham bungsu bukanlah tanpa resiko. Cabut gigi geraham bungsu saat hamil ataupun cabut gigi impaksi saat hamil biasanya memiliki efek sampingnya tersendiri. Inilah yang sering mengkhawatirkan. Oleh karena itu Halogigi akan mencoba menjelaskan lebih lanjut perihal Resiko Operasi Gigi Geraham Bungsu.

Resiko Operasi Gigi Geraham Bungsu

Dikutip dari laman nhs.uk, ada beberapa resiko yang dapat muncul setelah gigi geraham bungsu dicabut, seperti:

1. Alveolar Osteitis (Dry Socket)

Ketika gigi geraham bungsu dicabut, akan muncul gumpalan darah yang letaknya berada di rongga gigi yang kosong. Fungsinya yakni menjadi lapisan pelindung ujung saraf atau tulang yang terdapat pada rongga gigi yang kosong. Gumpalan darah ini juga dapat berfungsi sebagai pondasi untuk pembentukkan tulang baru atau jaringan lunak baru di atasnya. Alveolar Osteitis adalah keadaan yang terjadi ketika gumpalan darah yang ada di tempat gigi dicabut lepas atau mencair, sebelum luka dari cabut gigi tersebut sembuh.

Rongga gigi yang terbuka dapat menyebabkan rasa sakit. Karena di bawahnya terdapat saraf dan tulang. Rasa sakit ini bahkan dapat menyebar ke wilayah sisi wajah. Sakit akan bertambah parah dan akan menjadi radang jika terdapat sisa makanan pada rongga gigi. Adapun orang yang biasanya akan terkena Aveolar Osteitis adalah orang yang:

  • Sering merokok. Kandungan kimia yang ada di dalam rokok dapat menghambat penyembuhan luka dan dapat mengkontaminasi daerah luka akibat cabut gigi. Kegiatan menghisap rokok juga dapat mencabut gumpalan darah di rongga gigi sebelum waktunya.
  • Tidak menjaga kebersihan mulutnya dengan baik
  • Bermasalah dengan gigi geraham bungsunya, sehingga harus dicabut
  • Mengkonsumsi pil KB. Kandungan estrogen yang tinggi dalam obat kontraseptif seperti dalam pil KB dapat mengganggu proses penyembuhan dan meningkatkan resiko terkena Alveolar Osteitis
  • Memiliki infeksi gigi maupun gusi
  • Memiliki riwayat penyakit Alveolar Osteitis sebelumnya.

2. Kerusakan Saraf

Meskipun lebih jarang terjadi dibanding dengan alveolar osteitis, kerusakan bagian saraf yang disebut trigeminal juga mungkin terjadi setelah pencabutan gigi geraham bungsu. Kerusakan saraf trigeminal dapat menyebabkan nyeri, sensasi geli, mati rasa di lidah, bibir bagian bawah, dagu, gigi dan gusi.

Kerusakan biasanya hanya sementara. Berlangsung dari beberapa bulan hingga beberapa tahun. Namun kerusakannya akan berubah menjadi permanen jika saraf mengalami rusak parah.

Cedera saraf akan mengganggu aktifitas sehari-hari Anda, seperti kesulitan ketika makan dan minum. Tetapi kerusakan saraf hanya sebatas mengganggu rasa saja. Saraf yang rusak tidak berpengaruh pada pelemahan lidah atau bibir.

Dokter gigi Anda akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperkecil resiko kerusakan saraf ketika akan mencabut ggi geraham bungsu. Mereka juga akan memberitahukan resikonya kepada Anda sebelum operasi.

3. Infeksi

Pencabutan gigi geraham bungsu juga berpotensi menimbulkan infeksi. Tandanya yaitu warna kuning atau putih yang muncul di lokasi bekas gigi geraham bungsu dicabut. Selain itu juga bengkak dan nyeri yang tidak kunjung sembuh.

Sponsors Link

4. Komplikasi Lainnya

Dikutip dari laman hawaiifamilydental.com, berikut adalah komplikasi lainnya yang mungkin terjadi setelah gigi geraham bungsu dicabut.

  • Jahitan yang diperlukan pada daerah gigi dicabut
  • Resiko yang muncul karena penggunaan anastesi seperti struk dan serangan jantung
  • Pipi, lidah atau bibir mati rasa yang tidak hilang-hilang, rasanya berkisar dari mati rasa total hingga seperti ducubit dan ditusuk jarum
  • Kerusakan struktur gigi di sekitarnya
Sponsors Link

  • Patahan pada rahang dapat dibuat guna memudahkan akses ke gigi yang mengalami impaksi
  • Sisa akar atau serpihan tulang dapat tertinggal di dalam jaringan gusi
  • Sama halnya dengan prosedur operasi lain, ada resiko-resiko potensial lain yang berhubungan dengan cabut gigi geraham bungsu.Hal ini termasuk kesembuhan yang tertunda. Apalagi jika pasien cabut gigi merokok pada masa-masa penyembuhan.

Demikianlah penjelasan mengenai Resiko Operasi Gigi Geraham Bungsu. Setiap operasi pasti memiliki resikonya tersendiri. Begitu juga dengan operasi gigi geraham bungsu. Menghindari masalah dengan gigi geraham bungsu dapat dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan gigi geraham bungsu. Caranya dengan melakukan flossing antara gigi depan dengan gigi geraham bungsu. Penting juga untuk selalu menggosok gigi secara bersih dan menyeluruh hingga ke wilayah yang sulit dijangkau sekalipun, seperti gigi geraham bungsu misalnya. Dengan selalu menjaga kebersihan gigi, masalah gigi geraham bungsu tentunya dapat dihindari.

Sponsors Link
, ,